Senin 19 Oct 2026 14:28 WIB

Membumikan Budaya Kerja ikhlas

Seseorang yang bekerja untuk kerja akan cenderung tidak memperhatikan prosesnya.

Bekerja lembur (ilustrasi)
Foto: PxHere
Bekerja lembur (ilustrasi)

Oleh: Ustadz Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas Pondok Pesantren Khusnul Khotimah

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi sumber daya manusia (SDM) Yayasan Husnul Khotimah Kuningan, absen bukan sekadar tanda kehadiran. Laporan bukan sekadar kewajiban. Bekerja bukan sekadar tugas. Semua itu memiliki satu tujuan yaitu ibadah. Karena itulah lahir sebuah budaya kerja sebagai jati diri SDM, yang bukan hanya mengejar target dan ketuntasan, tetapi meraih pahala yang akan terus mengalir meski SDM yang bersangkutan telah tiada, yaitu budaya kerja IKHLAS. 

IKHLAS bukan hanya niat. IKHLAS adalah sistem Yayasan Husnul Khotimah dengan merumuskan enam pilar IKHLAS sebagai jati diri setiap SDM-nya yang dibingkai dengan ruh dakwah dan tarbiyah. Sehingga setiap langkah dan tetesan keringat dalam bekerja, mendidik dan mentarbiyah santri akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. 

Inilah yang membedakan, bekerja untuk kerja dengan bekerja untuk ibadah. Seseorang yang bekerja untuk kerja akan cenderung tidak memperhatikan prosesnya, yang penting selesai. Pun, ketika mendidik dan mentarbiyah santri. Ia semangat bekerja ketika di hadapan atasan, namun jika tidak ada atasan, maka melemah kerjanya.

Sedangkan seseorang yang bekerja untuk ibadah akan selalu berupaya menuntaskan tugasnya secara itqan (pofesional dan sebaik mungkin)). Ada atau pun tidak ada atasan, akan tetap semangat dalam menunaikan tugasnya, termasuk dalam mendidik dan mentarbiyah santri. Hal ini terwujud karena orientasi dalam bekerja serta mendidik dan mentarbiyah santri adalah untuk ibadah kepada Allah SWT.

Akronim IKHLAS

I – INTEGRITAS. Bekerja dengan INTEGRITAS artinya jujur dalam niat, perkataan, dan tindakan. Konsisten dalam memegang prinsip dan peraturan yayasan. Menjaga kehormatan pribadi dan lembaga. Tidak mengurangi durasi waktu. Tidak asal-asalan. Karena kita memiliki keyakinan, bahwa atasan bisa lengah, tetapi Allah tidak pernah tidur. Jika sudah terinternalisasi muroqabatulloh (merasa selalu diawasi oleh Allah SWT) dalam diri maka setiap SDM dapat menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab dan profesional.

K – KOMITMEN. KOMITMEN artinya teguh pada visi dan misi lembaga. Tuntas dalam tugas. Tidak mudah menyerah meski ujian datang. Karena kita bukan sedang bekerja. Kita sedang berjuang mendidik dan mentarbiyah calon kader dakwah.

H – HARMONI. SDM kuat karena saling menguatkan. Kerja tim dibangun di atas prinsip ukhuwah. Menjaga musyawarah dan adab dalam komunikasi, saling menghormati dan menghargai, saling membantu, serta bekerja sama dan sama-sama kerja. Bekerja ikhlas, kerja tuntas, dan kerja cerdas. Sekali lagi, harmoni adalah kekuatan lembaga.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi