
Oleh: dr Prita Kusumaningsih SPOG
REPUBLIKA.CO.ID; Tak banyak yang mengetahui bahwa tanggal 18 Oktober diperingati sebagai Hari Menopause Sedunia (World Menopause Day). Tema yang diusung pada tahun 2026 ini adalah Chronic Pain at Midlife atau nyeri kronis pada usia pertengahan. Tentu saja pain atau nyeri pada tema tersebut bukan untuk menakut-nakuti namun lebih kepada mengenali nyeri tersebut dan bagaimana solusi mengatasinya. Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, nyeri pada usia pertengahan ini sudah kita akrabi dengan sebutan “pegal linu” dan “sakit pinggang”.
Menopause atau masa berhentinya haid (mati haid) adalah siklus alamiah dari setiap wanita. Dikatakan menopause apabila dalam kurun waktu 12 bulan berturut-turut seorang wanita tidak mendapatkan haid. Sehingga tidak serta merta seorang wanita di atas 45 tahun yang baru 1-2 bulan tidak haid lantas dikatakan menopause. Yang sebenarnya, ia sedang berada di fase klimakterium (peri menopause), yakni fase peralihan dari masa reproduksi ke masa menopause. Masa klimakterium bisa berlangsung bertahun-tahun.
Tak sedikit wanita menghadapi menopause dengan kecemasan. Hal itu terjadi karena benaknya dipenuhi dengan mitos-mitos negatif terkait masa ketiadaan haid tersebut. Mitos negatif itu di antaranya: “Sudah tidak cantik lagi, tidak menarik lagi di mata suami, badan gemuk dan bergelambir, kulit keriput, sakit-sakitan, tidak produktif lagi”, dan beberapa mitos lagi yang sejenis.
Alih-alih berkubang dalam kecemasan dan ketakutan tak berujung, mengapa tidak mengubah paradigma memelas tersebut dengan berbagai nilai positif yang bisa diraih di saat menopause. Untuk itu, diperlukan berbagai persiapan baik dari segi fisik, pola pikir, pola makan, dan pola hidup untuk menghadapi menopause.
Tidak dapat dipungkiri bahwa menopause akan membawa berbagai perubahan. Dari segi fisik akan dijumpai berat badan yang mudah sekali meningkat dan menumpuknya lemak di bagian-bagian tubuh tertentu. Tak heran ada yang berseloroh, “Baru mikir makanan belum sampai makan, eh sudah gemuk!” Selain itu terjadi penurunan massa otot, kulit mudah kering, rambut menipis dan beruban, lebih mudah lelah, serta kekakuan dan nyeri sendi. Semburan panas (hot flush) yang membuat wajah berkeringat membanjir dan sulit tidur di malam hari termasuk yang sering dialami juga. Perlu dipahami bahwa keluhan-keluhan tersebut tidak dialami secara sekaligus oleh setiap wanita. Ada yang mengalami beberapa saja dan ada yang mengalami beberapa yang lain.
Perubahan psikis dan emosional juga bisa muncul saat perimenopause. Ia bisa berwujud iritabilitas (mudah sedih atau mudah tersinggung), kecemasan, atau rasa sendirian. Bisa diperburuk apabila disertai dengan gangguan relasi istri dan suami dalam bentuk nyeri saat berhubungan intim. Nyeri ini akibat dari menipisnya lapisan epitel pada dinding vagina.
Nyeri dalam bentuk lain misalnya saat buang air kecil, akibat dari infeksi saluran kemih. Selain itu, akibat dari menurunnya kekuatan otot dasar panggul bisa menyebabkan inkontinensia urine, yaitu kesulitan menahan keluarnya air seni. Menurunnya kadar hormon estrogen akan meningkatkan proses pengeroposan tulang (osteoporosis), yang juga akan menimbulkan nyeri. Apalagi bila sampai terjadi patah tulang!
Apakah deretan keluhan tersebut menyebabkan seorang wanita menjadi ketakutan menghadapi salah satu episode penting dalam hidupnya? Seharusnya tidak. Karena semua masalah tersebut bisa diminimalkan derajatnya. Mengatur pola makan dengan jalan membatasi konsumsi gula, garam, dan minyak sesuai piramida gizi akan mencegah berat badan berlebih, menjaga agar tidak terjadi kenaikan tekanan darah dan stabilisasi gula darah.
Konsumsi protein, kalsium, dan vitamin D serta latihan beban yang teratur dapat meningkatkan massa otot dan mencegah osteoporosis. Istirahat yang cukup (hindari bergadang), suasana kamar yang nyaman dan menyenangkan akan membuat kualitas tidur lebih baik, menurunkan serangan semburan panas (hot flush), dan menurunkan tingkat kecemasan. Pada kondisi-kondisi tertentu, diperlukan konsultasi ke dokter. Khususnya bila terjadi dispareunia (nyeri saat berhubungan intim) dan nyeri saat berkemih, dokter kandungan akan siap membantu mendapatkan solusi. Jangan normalisasi orang tua yang sholat sambil duduk. Berkonsultasi ke dokter orthopaedi untuk kasus nyeri sendi dan osteoporosis sangat dianjurkan.
Di lain pihak, sisi-sisi positif pada menopause seharusnya disyukuri. Untuk Muslimah, tentu kesempatan beribadah tanpa jeda menjadi sebuah anugerah tersendiri. Menggenapkan puasa Ramadhan, ibadah sholat tak terputus, dan tilawah Alquran tanpa jeda akan menjadi episode yang sangat berharga. Ibadah ke Tanah Suci tanpa harus menghitung berapa hari haid yang harus ditunda, membuat seorang wanita lebih dapat meresapi detik demi detik kedekatan dengan Allah selama berada di rumah-Nya. Hubungan suami istri lebih dapat dinikmati tanpa was-was akan terjadi kehamilan. Dan wanita juga akan bebas dari berbagai efek samping kontrasepsi. Namun demikian, tetap dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh secara berkala. Termasuk untuk kesehatan organ intim.
Tulisan ini dibuat tidak hanya untuk para wanita yang sudah atau menjelang menopause, namun juga untuk keluarganya. Diperlukan pemahaman dan dukungan dari suami agar seorang istri bisa memasuki masa menopause dengan bahagia. Demikian juga dengan anak-anak yang tentunya sudah beranjak dewasa. Sekaranglah waktunya menjadikan ibu sebagai seorang ratu. Biarkan ibu tetap beraktifitas.
Orang tua yang sehat bukan mereka yang hanya duduk saja. Namun ibu perlu difasilitasi untuk melakukan aktivitas yang mendukung kesehatannya, misalnya dengan menyediakan alat-alat untuk latihan beban. Mengajak/menemani ibu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan (Medical Chek Up) adalah sebuah bakti yang berpahala. Dengan demikian, para wanita akan menyambut masa menopause sebagai babak baru dalam kehidupannya dengan senyum sumringah. Selamat datang menopause!