Jumat 30 Oct 2026 11:33 WIB

Belajar Memimpin dari Kulit Nanas

Perubahan besar bisa dimulai dari selembar kulit nanas.

Pedagang merapikan buah nanas. Kulit nanas bisa diolah menjadi pintu masuk untuk belajar mengelola limbah organik.
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang merapikan buah nanas. Kulit nanas bisa diolah menjadi pintu masuk untuk belajar mengelola limbah organik.

Oleh: Nuniek Nizmah Fajriyah: Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan; Perawat Luka, Peneliti, Mahasiswa Program Doktor Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman

Persoalan sampah di negeri ini sering kita bayangkan sebagai gunungan di tempat pembuangan akhir. Padahal sebagian besar sampah itu lahir dari dapur kita sendiri. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional tahun 2024 mencatat rumah tangga sebagai penyumbang terbesar, yaitu 46,31 persen dari total timbulan, dan sisa makanan menjadi jenis sampah paling banyak dengan proporsi 39,36 persen. Artinya, kunci pengurangan sampah sebenarnya ada di tingkat keluarga, di tempat sayur dikupas dan buah dipotong setiap hari.

Di rumah, urusan sampah hampir selalu jatuh ke tangan perempuan. Ibu yang memasak, ibu pula yang memilah, membuang, dan membersihkan sisanya. Ironisnya, perempuan lebih sering diperlakukan sebagai sasaran imbauan ketimbang sebagai penggerak perubahan.

Baca Juga

Ambil contoh kulit nanas. Di banyak rumah, kulit nanas langsung masuk tempat sampah, padahal bahan itu bisa diolah dan menjadi pintu masuk untuk belajar mengelola limbah organik.

Belakangan, pelatihan membuat sabun cuci piring dari kulit nanas memang marak di berbagai daerah. Niatnya baik, tetapi ada yang patut diwaspadai. Tidak sedikit kegiatan yang langsung menyebut produk buatan rumah itu antibakteri, antiseptik, bahkan siap dijual, tanpa pengujian yang memadai. Di sinilah pertanyaan pentingnya muncul: siapa yang memimpin perubahan di masyarakat agar tetap aman, jujur terhadap bukti, dan tidak berhenti setelah pelatihan usai?

Menurut saya, perawat perlu ikut mengambil peran itu. Selama ini perawat identik dengan bangsal dan jarum suntik, padahal kesehatan manusia tidak bisa dilepaskan dari kesehatan lingkungan tempat ia tinggal. Pandangan inilah yang dikenal sebagai green nursing, yaitu praktik keperawatan yang peduli pada keberlanjutan lingkungan. Jika rumah tangga adalah sumber sampah terbesar, maka keluarga dan komunitas adalah ruang kerja yang sah bagi perawat, bukan hanya rumah sakit.

Keyakinan itu saya uji melalui proyek PINEA-GREEN NURSE, bagian dari mata kuliah Kepemimpinan Inovatif di Program Doktor Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman. Pada 2 Oktober 2026, saya bersama 50 ibu anggota ’Aisyiyah Perum Puri Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, belajar mengolah kulit nanas menjadi prototipe sabun cuci piring yang kami namai NANASRI. Hasilnya menggembirakan. Rata-rata nilai pengetahuan peserta naik dari 68,20 menjadi 86,80, dan 49 dari 50 peserta mengalami peningkatan. Namun, bagi saya pelajaran terpenting justru terletak pada cara perubahan itu dipimpin, bukan pada sabunnya.

Pelajaran pertama, perubahan sebaiknya dimulai dari pertanyaan warga, bukan dari ceramah. Dalam dialog awal, seorang ibu bertanya, “Apakah kulit nanas yang selama ini dibuang masih bisa dimanfaatkan?”

Pertanyaan sederhana itu lebih kuat daripada slogan apa pun, karena kesadaran tumbuh dari dalam kelompok sendiri. Kegiatan pun kami tempatkan di forum pengajian rutin, bukan sebagai acara asing. Pesan menjaga lingkungan kami kaitkan dengan nilai kebersihan dan amanah merawat bumi yang sudah lama dihayati jamaah.

Pelajaran kedua, pemimpin harus jujur terhadap batas bukti. Penelitian memang menunjukkan potensi kulit nanas sebagai bahan pembersih. Akan tetapi, sabun yang kami buat bersama belum diuji daya antibakteri, keamanan bagi kulit, maupun daya simpannya. Karena itu, NANASRI sejak awal kami labeli sebagai prototipe edukatif, bukan antiseptik, bukan antibakteri, dan bukan produk siap jual. Di tengah derasnya klaim produk “alami” di media sosial, sikap jujur seperti ini adalah bentuk perlindungan bagi masyarakat.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi