Oleh Dr Rizky Fajar Meirawan SKH MVet, Warga Muhammadiyah Ranting Sukahati, Cabang Cibinong
JAKARTA -- KH Ahmad Dahlan, selaku Pendiri Muhammadiyah, memberikan perhatian khusus pada perbaikan kualitas dan akses pendidikan. Perserikatan ini merepresentasikan kaum Muslim terdidik dan terpelajar yang siap menjadi pemimpin dan penggerak masyarakat menuju Indonesia adil dan makmur. Hal inilah yang menurut penulis, menjadi dasar definisi Muhammadiyah sebagai organisasi pergerakan Islam modern.
Muhammadiyah telah menghasilkan pokok-pokok pikiran “Islam Berkemajuan” dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua hasil Muktamar ke-46 pada tahun 2010 di Yogyakarta. Di dalam pokok pikiran tersebut, terdapat bahasan “Pandangan Keislaman”. Di dalam dokumen pemikiran ini, tertulis jelas pandangan Muhammadiyah terkait wawasan kebangsaan dan kemanusiaan universal (kosmopolitanisme Islam).
Muhammadiyah membumikan Gagasan Islam Berkemajuan melalui proses pendidikan di ribuan sekolah dan perguruan tinggi di seluruh wilayah Indonesia. Organisasi ini mengelola Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) serta pesantren dan sekolah berasrama (boarding school). Institusi pendidikan tersebut menjadi sarana transformasi sosial masyarakat berbasis penguasaan ilmu pengetahuan. Inilah peran nyata Muhammadiyah dalam membebaskan masyarakat dari kebodohan lewat program pendidikan berkualitas.
Saat ini, kampus-kampus PTMA menampung puluhan ribu akademisi serta peneliti Muslim terbaik secara berkelanjutan. Para cendekiawan Muslim tersebut menggunakan kampus sebagai sarana untuk menjalankan kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi. Khususnya dalam percepatan pembangunan kesejahteraan masyarakat melalui aktivitas riset dan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Oleh karenanya, semakin aktif Muhammadiyah melakukan hilirisasi riset, kesejahteraan masyarakat seharusnya semakin cepat terwujud dan mewujud. Idealisme penelitian di lingkup PTMA adalah sebuah proses riset dengan tujuan menciptakan beraneka produk inovatif yang relevan dengan kebutuhan publik.
Akademisi Muhammadiyah dalam rumpun ilmu Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dapat dapat mengadakan kegiatan hilirisasi dan mengimplementasikan teknologi Internet of Things (IoT) serta smart and precision farming pada lahan milik petani rakyat. Muhammadiyah juga dapat memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas melalui penerapan teknologi tepat guna, melalui pendampingan struktural. Mulai tingkat ranting (kelurahan/desa), cabang (kecamatan), daerah (kabupaten/kota), hingga wilayah (provinsi).
Kaum cerdik cendekia yang tergabung di Muhammadiyah, memiliki modal besar berupa keanekaragaman hayati dan bahan alam yang tersedia secara melimpah di seluruh wilayah Indonesia. Di mana kekayaan ini, dapat diolah menjadi obat, vaksin, suplemen, produk perawatan tubuh, dan produk farmasi lainnya.
Muhammadiyah adalah organisasi kemasyarakatan dengan kapasitas dan kapabilitas dalam membangun kemandirian farmasi serta alat dan teknologi kesehatan melalui pengembangan riset terapan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Termasuk implementasi akal imitasi (AI) di bidang kedokteran dan kesehatan. Inilah usulan peran aktif akademisi Muhammadiyah dalam menjalankan aktivitas penelitian dan riset dalam rumpun ilmu kesehatan.